Cinta itu Rumit
Beberapa tulisan saya kedepan akan berisi tentang curhatan saja. Seperti tulisan yang sebelumnya, "...untuk mengeluarkan isi pikiran yang sesak didalam kepala" saya perlu melanjutkan untuk menulis
Siapa orang di dunia ini yang gak merasakan cinta? Saya yakin gak ada. Cinta akan banyak kalian jumpai dengan mudahnya disekitar kalian. Bisa dari kucing yang tiba-tiba menghampiri, bisa dari angin yang berhembus menyentuh kulit kalian, dari hangatnya sinar matahari yang menyinari di pagi hari, keluarga kalian, teman-teman, hingga cinta antara manusia dengan manusia. Cinta antara manusia ini yang dikenal baik dengan orang-orang sebagai "pacaran". Disini saya gak bakal bagi-bagi tips "bagaimana cara pedekate", "bagaimana cara pacaran para millenials" atau yang lainnya wkwk namun hanya berbagi apa yang saya rasakan saat ini.
Tentunya banyak dari kita merasakan pacaran. Perasaan suka atau disukai, hal yang cukup menyenangkan. Kejadian seperti itu umumnya dirasakan orang-orang saat beranjak remaja atau biasanya pada masa-masa SMA. Saya sendiri telah pacaran (yang sekarang sudah jadi mantan wkwk) sejak SMA hingga beranjak kuliah. Semua itu kandas, setelah memasuki dunia perkuliahan. Entah kenapa, cukup banyak saya temui orang-orang yang dulunya berpacaran dari SMA dan ketika masuk kuliah tiba-tiba semuanya berubah. Hal itu yang saya rasakan, namun ketika melihat alasan "kenapa?" saya mendapati jawaban yang cukup menyakitkan. Pada umumnya orang-orang pun juga merasakan hal yang sama, ada yang putus karena beda agama, ada yang putus karena telah menemukan orang yang lebih-lebih (re: kaya, tampan, atau cantik), ada yang putus karena orang tua tidak setuju dengan kelas sosial (misal: jurusan yang masih dipandang sebelah mata atau hobby). Silahkan tebak saya yang mana wkwk, singkat cerita saya dan mantan selesai saat masuk perkuliahan.
Skip ke keadaan sekarang. Saat ini saya juga telah menjalani hubungan dengan seseorang. Saya memiliki seorang teman cerita di jurusan saya, satu angkatan, ya satu angkatan. Berarti sudah 5 tahun saya berkenalan dengan dia dan 2 tahun belakangan ini saya cukup dekat dengannya. Namun, kali ini saya cukup bingung bagaimana membahasakan hubungan kami. Kami juga tidak memiliki ikatan pasti (re:pacaran), karena pada saat itu saya pikir semua akan berjalan mudah. Tapi, tapi, tapi pikiran saya tidak sesuai dengan realita yang ada. Saya ditolak, ya DITOLAK!. Setelah hampir 2 tahun bersama, menemani makan, nonton bioskop, jalan-jalan dan masih banyak lagi, saya ditolak. Sedih rasanya ketika sudah saya lontarkan pertanyaan "mau gak jadi pacarku?" selepas saya antarkan ke kampus yang pada waktu itu dia ada rapat di kampus sore hari. Menunggu dia menakar pikirannya dan kemudian menjawab "gamau, jangan paksa aku" seperti ditusuk jarum yang sudah dileleti perasan jeruk nipis. Sakit ya perih, loro pokoke wkwk. Tapi kemudian dia bilang "tapi kamu tetep bareng aku". Loh piye toh? saya di friendzone kan wkwk. (wis tak bilang ini isinya curhat).
Tentunya banyak dari kita merasakan pacaran. Perasaan suka atau disukai, hal yang cukup menyenangkan. Kejadian seperti itu umumnya dirasakan orang-orang saat beranjak remaja atau biasanya pada masa-masa SMA. Saya sendiri telah pacaran (yang sekarang sudah jadi mantan wkwk) sejak SMA hingga beranjak kuliah. Semua itu kandas, setelah memasuki dunia perkuliahan. Entah kenapa, cukup banyak saya temui orang-orang yang dulunya berpacaran dari SMA dan ketika masuk kuliah tiba-tiba semuanya berubah. Hal itu yang saya rasakan, namun ketika melihat alasan "kenapa?" saya mendapati jawaban yang cukup menyakitkan. Pada umumnya orang-orang pun juga merasakan hal yang sama, ada yang putus karena beda agama, ada yang putus karena telah menemukan orang yang lebih-lebih (re: kaya, tampan, atau cantik), ada yang putus karena orang tua tidak setuju dengan kelas sosial (misal: jurusan yang masih dipandang sebelah mata atau hobby). Silahkan tebak saya yang mana wkwk, singkat cerita saya dan mantan selesai saat masuk perkuliahan.
Skip ke keadaan sekarang. Saat ini saya juga telah menjalani hubungan dengan seseorang. Saya memiliki seorang teman cerita di jurusan saya, satu angkatan, ya satu angkatan. Berarti sudah 5 tahun saya berkenalan dengan dia dan 2 tahun belakangan ini saya cukup dekat dengannya. Namun, kali ini saya cukup bingung bagaimana membahasakan hubungan kami. Kami juga tidak memiliki ikatan pasti (re:pacaran), karena pada saat itu saya pikir semua akan berjalan mudah. Tapi, tapi, tapi pikiran saya tidak sesuai dengan realita yang ada. Saya ditolak, ya DITOLAK!. Setelah hampir 2 tahun bersama, menemani makan, nonton bioskop, jalan-jalan dan masih banyak lagi, saya ditolak. Sedih rasanya ketika sudah saya lontarkan pertanyaan "mau gak jadi pacarku?" selepas saya antarkan ke kampus yang pada waktu itu dia ada rapat di kampus sore hari. Menunggu dia menakar pikirannya dan kemudian menjawab "gamau, jangan paksa aku" seperti ditusuk jarum yang sudah dileleti perasan jeruk nipis. Sakit ya perih, loro pokoke wkwk. Tapi kemudian dia bilang "tapi kamu tetep bareng aku". Loh piye toh? saya di friendzone kan wkwk. (wis tak bilang ini isinya curhat).
Perasaan saya campur aduk, bahkan hingga sampai sekarang. Bayangkan saja, selama 2 tahun kami dekat, saya tidak pernah datang ke rumahnya, bahkan tau rumahnya yang mana saja tidak. Sebagai seorang lelaki, saya sedih karena belum bisa berkenalan (setidaknya untuk awalan) dengan orangtuanya. Dia mengatakan "jangan sekarang, belum waktunya" mungkin karena dia kepikiran dulu bagaimana aku dengan mantanku. Selain itu, waktu bertemu pun tidak sebebas itu. Ya, memang kami anak kuliahan. Saya ngekos tapi dia punya rumah jogja dan asli jogja. Jadi sampai sekarang pun dia menjadi anak rumahan yang tidak bisa pulang malam. Namun di beberapa kesempatan bisa pulang malam kalau ada kegiatan. Jadi saya curi-curi waktu untuk ketemu walaupun beberapa kesempatan sering dia pulang malam, kadang cemburu dengan orang-orang yang bisa bertemu dengannya tiap hari. Oh ya, waktu bertemu pun tidak bisa setiap hari wkwk hanya Senin-Jum'at saja dan dengan catatan kalau dia ke kampus dan ada kegiatan. Jujur di perasaan yang terdalam, saya juga ingin punya kegiatan dengannya, supaya bisa bertemu terus. Apalagi di kondisi sekarang ini, COVID-19 benar-benar membatasi! saya bisa gila dengan keadaan ini.
Ya, bayangkan saja, di hari-hari biasa saja, saya harus benar-benar ngolah ati dan menyusun strategi untuk bisa bertemu (di beberapa kesempatan apabila tidak bertemu pun kadang terjadi pertengkaran wkwk). Apalagi kondisi seperti sekarang ini, tidak bisa bertemu langsung. Cuma chattingan itupun kalau bisa ngobrol panjang lebar. Tidak bisa telpon apalagi video-call. Kenapa bisa begitu? karena dia di rumahnya sekarang, kalau dia ketahuan telpon dengan saya, katanya bisa berantakan. Ya kami backstreet dengan tanpa status selama hampir 2 tahun. Sudah backstreet, tidak ada status hubungan lagi wkwk how pity i am. Ditambah, kami tidak bisa bermain di sosial media seperti hubungan-hubungan orang lain. Maksudnya as simple as "membalas" tweet atau "berkomentar" di foto instagram. Ya benar dia tidak se ekspresif itu. Kadang ada perasaan iri, ketika dia lebih suka mampir di sosial media orang lain daripada milik saya. Cemburu juga. Padahal sampai saya membuat tweet tentang "sepatu adinda yang ada gambar daun singkongnya tiga" dan itu sudah ratusan like, puluhan reply dan komentar, tetap saja dia tidak tertarik (saya pikira dia akan men-stalk saya ternyata saya yang men-stalk dia wkwk). Apalagi yang punya kegiatan bersamanya di hari-hari PSBB ini, jaga jarak tapi bisa berkegiatan bersama, mencipta sesuatu yang bermanfaat. Saya merasa sangat kecil apalagi kalau diingat sudah beberapa perlombaan tulisan yang dia menangkan, beberapa tulisan yang dimuat di jurnal, berapa tulisan yang menjadi kolaborator. Ingin rasanya seperti itu dan dilakukan dengannya. Sekarang ini dia mungkin sedang menjadi kolaborator untuk menulis jurnal yang akan dimuat di jurnal publikasi instansi arkeologi atau projek menulis dengan orang-orang untuk membuat suatu platform yang bertema arkeologi. Dalam prosesnya mungkin dia akan melakukan telpon atau video call karena tidak bisa tatap muka langsung. Sumpah saya cemburu...
Padahal bisa saja saya mencuri kesempatan atau chance heist (sok inggris wkwk) dengan cara menjadi kolaborator menulis dengannya atau membuat projek lain saat PSBB seperti sekarang ini. Namun saya tidak memiliki keberanian dan tidak tahu how to start with it. Sungguh sedih dan menjadi ironi ketika saya pikir saya memiliki hubungan spesial namun tidak bisa bertatap muka lewat video call dan mendengar suaranya, sungguh rindu akan suara merdunya. Tentunya banyak alasan yang saya tidak ketahui dibalik ini semua. Atau semua hanya utopis saja? menjadi keinginan dan impian yang maya belaka? mari kita lihat selanjutnya, semoga semuanya membaik...
Padahal bisa saja saya mencuri kesempatan atau chance heist (sok inggris wkwk) dengan cara menjadi kolaborator menulis dengannya atau membuat projek lain saat PSBB seperti sekarang ini. Namun saya tidak memiliki keberanian dan tidak tahu how to start with it. Sungguh sedih dan menjadi ironi ketika saya pikir saya memiliki hubungan spesial namun tidak bisa bertatap muka lewat video call dan mendengar suaranya, sungguh rindu akan suara merdunya. Tentunya banyak alasan yang saya tidak ketahui dibalik ini semua. Atau semua hanya utopis saja? menjadi keinginan dan impian yang maya belaka? mari kita lihat selanjutnya, semoga semuanya membaik...
Komentar
Posting Komentar