Kepala Yang Penuh

    2 hari yang lalu tepatnya... sewaktu saya menulis tentang "Reboot : Memulai Ulang", dalam tulisan tersebut saya mengatakan bahwa isi kepala terasa berat dan seperti ada beban. Kemudian saya putuskan untuk menulis. Mungkin isi tulisan ini masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya karena saya hanya ingin mengutarakan apa yang saya rasakan.
    Benar-benar hari yang cukup berat saya rasa. Beberapa pekan ke belakang dan hingga sekarang sering kita dengar berita tentang COVID-19 di televisi atau media mainstream lainnya bukan? ya benar karena saat ini dunia telah "diserang" oleh virus famili coronaviridae yang hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya. Dampak secara global sangat terasa baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Indonesia salah satu negara yang terdampak dan merupakan negara yang saya tinggali. Secara personal saya juga merasakan itu.
    Saya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Bukan berasal dari keluarga yang mampu secara finansial tapi syukur saya bisa melanjutkan di bangku perkuliahan. Sebuah kebanggaan tentunya mengingat hanya segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari yang bisa kuliah di kampung saya. Cukup membanggakan? namun belum cukup karena saya sendiri belum bisa melepas status "mahasiswa" dari universitas saya.
    Saat ini saya berada di semester ke-10. Sebenarnya saya telah menyelesaikan "kuliah" saya di semester 6 atau 7, saya lupa dan meninggalkan skripsi yang belum saya ambil. Singkat cerita saya mengambil skripsi dan memulainya di semester 8-9 karena ada sesuatu hal. Mungkin terlambat lulus, ya benar, tapi tidak terlalu karena rata-rata kelulusan di jurusan saya antara 5-6 tahun. Menjadi beban namun tidak terlalu beban. Saya pun telah menyelesaikan skripsi saya dan tinggal menunggu revisi lalu bersiap untuk sidang. Pilihan saat ini adalah hanya bisa sidang secara daring (namun tergantung kebijakan departemen yang nanti bakal diambil). Kondisi tersebut dipengaruhi karena adanya COVID-19 yang membatasi interaksi langsung dari orang ke orang lain.
    Saya merasa hari-hari semakin berat karena saya tidak bisa melakukan rutinitas seperti biasanya. Jikalau biasanya saya masih bisa band-band an, nongkrong, atau pergi jalan bersama seseorang yang spesial, tapi sekarang tidak, saya hanya bisa berdiam di rumah. Ya, saya cukup memperhatikan hal terkait dengan tindakan preventif penularan COVID-19 hingga saya cukup menjaga jarak dan keluar rumah jika benar-benar diperlukan. Mungkin saat ini yang bisa saya lakukan adalah menunggu revisian untuk sesegera mungkin saya kerjakan, bermain gim, youtube, atau menanam tumbuhan. Namun semua itu saya rasa kurang, saya merasa tidak produktif. Hal tersebut mungkin terjadi karena saya melakukan komparasi dengan kegiatan orang lain.
    Masih berkaitan dengan tulisan yang sebelumnya, saya merasa iri ketika melihat orang lain "kenapa dia bisa begitu dan saya tidak bisa?", "bagaimana cara memulai?", termasuk melakukan kegiatan bersama orang spesial. Hal-hal tersebut membuat kepala saya penuh. Saya sadar betul hal tersebut merupakan pikiran saya saja yang kemudian memenuhi kepala saya. Saya merasa kecil dibanding dengan orang lain. Saya merasa "saya kuliah di jurusan ini tapi saya tidak bisa melakukan seperti itu?". Apalagi terbesit di pikiran "saya harus cepat lulus supaya bisa kerja" (ada impian saya untuk melanjutkan S2 namun melihat orang tua saya yang semakin tua dan ada ketakutan dalam diri saya tidak bisa membahagiakan mereka) karena saya merupakan anak pertama jadi harus membantu orang tua dan adik-adik saya.
    Pikiran buruk selalu melintas di langit-langit. Seminggu terakhir ini, saya benar-benar merasa "berat". Memikirkan banyak hal yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Ada 2 hari dalam seminggu terakhir tersebut saya pernah memiliki suicidal though. Ya seharusnya saya menghubungi psikolog, bodoh sekali. Namun saya sendiri sedang tidak bagus secara finansial "bagaimana bisa saya membayar psikolog sedangkan kebutuhan pangan keluarga saja belum tentu tercukupi?". Seharusnya mencari pertolongan kepada psikolog sangat worth it untuk kondisi kejiwaan seseorang dan tentunya sebuah investasi. Saya berpikir ulang, saya kasian dengan orang tua saya dan tidak tega dengan mereka, mereka terlalu baik. Apalagi memikirkan adik-adik saya, tidak mungkin saya melakukan itu!. Kemudian  saya mencari alternatif, mungkin mencari kegiatan lain yang bisa menghilangkan pikiran buruk tersebut. Ya saya melatih perasaan saya untuk menanam tumbuhan. Saya berharap demikian.
    Perasaan dan pikiran yang semakin sesak oleh anak pertama umum saya pikir jika dirasakan oleh setiap anak pertama, saya merasa seperti itu. Apalagi anak pertama yang bukan merupakan anak dari seorang konglomerat, pasti harus struggle dalam kehidupannya. Saya harus survive Saat tulisan ini dibuat pun kepala saya nyut-nyutan entah karena apa. Mungkin ketika saya sudah siap, saya akan hubungi psikolog. Doakan untuk sehat secara jasmani dan rohani.... semoga semuanya dapat sembuh, semuanya

Komentar

Postingan Populer