Cerpen : (Tutup) Senja
Karya : Aldhi Wahyu Pratama
Kali ini aku buat satu cerpen, sebagai pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kita memang tumbuh menjadi dewasa, tapi orangtua kita semakin menua juga. Sayangilah mereka, hubungi mereka, beri mereka perhatian lebih seperti kalian memberi perhatian teman, sahabat, bahkan pacar kalian karena belum tentu kalian bisa bertemu di waktu yang cepat ini. Selamat membaca !
Kala itu dini hari, ketika fajar belum hadir menyambut pagi
terdengar suara lantunan doa dari seorang gadis. Dimintalah kepada Yang Maha
Kuasa berkah kehidupan dan kesembuhan dari bundanya. Reza selalu menyempatkan
waktu untuk memanjatkan doa di waktu itu sebelum mentari bersinar di pagi hari.
Kali ini ibunya memang sedang tidak sehat, sering sakit-sakitan, tapi Reza
belum sempat untuk pulang ke rumah menemui keluarga dan terutama ibunya.
Dia adalah anak pertama dari 3
bersaudara. Dia adalah jagoan kedua
orangtuanya. Dia telah meraih banyak prestasi mulai dari akademik maupun
non-akademik seperti tari. Ya benar dia menyukai seni terutama menari karena
sejak kecil dia sudah menari klasik Jawa. Apalagi dengan prestasinya ia mampu
menimba ilmu di perguruan tinggi favorit sehingga orang-orang terheran-heran
bagaimana bisa seorang anak pedagang sayur di pasar tradisional bisa sekolah
tanpa biaya sepeser pun. Namun bukan itu cerita yang disampaikan.
Suatu hari, seperti biasa Reza
sibuk dengan kegiatan kampusnya. Ia mengikuti kegiatan seni tari dan juga aktif
di sebuah organisasi mahasiswa bahkan memegang jabatan penting disana. Bahkan
hingga tak sempat untuk memberi kabar pada keluarga di rumah. Memang terkadang
hari-hari seperti ini yang membuat si Reza sangat sibuk hingga melupakan bahwa
ada seseorang yang menunggu kabarnya saat itu. Padahal jika diperhatikan jarak antara
kampus sampai rumahnya hanya berkisar 3-4 jam, namun untuk menyempatkan pulang
tidak bisa. Tiba-tiba berderinglah telepon si Reza…
“Halo, kak Reza”
“Iya, dek gimana?” jawab Reza
“Halo, kak Reza”
“Iya, dek gimana?” jawab Reza
Reza dihubungi
oleh adeknya Galuh, anak kedua
“Anu.. kak, mamah
masuk rumah sakit lagi” jawab Galuh
Seperti petir di siang bolong, kabar dari Galuh tentang orang tua mereka .
Seperti petir di siang bolong, kabar dari Galuh tentang orang tua mereka .
“mamah kenapa lagi
luh? Gimana keadaannya sekarang?” tanya Reza dengan bingung
“mamah tekanan
darahnya rendah dan harus diopname kak … mamah pingsan” jawab si Galuh dengan
nada yang sedih
Reza pun bingung, pagi itu memang ia sedang ada rapat untuk
persiapan sebuah acara seni di kampusnya dan dia menjadi koordinator acara.
Sebuah acara tahunan yang diselenggarakan oleh fakultasnya. Kebingungan pun
melanda pikirannya, disaat itu tidak mungkin seorang koordinator meninggalkan
tugasnya karena memang rapat kali ini memang untuk keberlangsungan acara seni
tersebut. Pada akhirnya dia melanjutkan rapat hingga selesai.
Waktu menunjukkan pukul 12.24, rapat selesai dan adzan pun
berkumandang, segera ia mengambil air wudlu untuk melaksanakan ibadah. Kemudian
dia meminta agar diberikan kesembuhan pada ibunya itu paling tidak mendengar
suara mamahnya. Selepas ibadah, Reza mendapat panggilan dari nomor telepon
Galuh.
“Halo…” dengan
suara lirih
“Iya? Mamah? Mamah
sudah baikan? Mamah sudah sehat? Mamah gakpapa kan?” tanya Reza sambil menangis
“Iya, sayang. Mamah gakpapa. Ini lagi sama papah sama adek” kata Mamah Reza dengan suara yang pelan.
“Iya, sayang. Mamah gakpapa. Ini lagi sama papah sama adek” kata Mamah Reza dengan suara yang pelan.
“Reza, pulang ya
mah, Reza minta maaf. Gak bisa ngabarin keluarga satu minggu yang lalu,
ternyata mamah sakit. Reza pulang ya mah” kata Reza.
“Mamah sekarang
sudah di rumah nduk, dek Reza langsung pulang ke rumah ya” kata Papah Reza
lewat telepon Galuh.
Dengan semangat, Reza segera berkemas untuk persiapan pulang karena memang hari sabtu tidak ada perkuliahan dan waktu setengah hari yang dihabiskan dengan rapat. Dia bergegas meninggalkan kota Yogyakarta menuju ke Demak. Dipilihlah bus sebagai kendaraannya untuk pulang ke rumah. Saat itu perasaannya campur aduk, di lain sisi dia senang karena Sabtu dan Minggu itu tidak ada kegiatan yang menyita waktunya sehingga dia bisa pulang, namun di lain sisi dia merasa gelisah dan tak tenang karena memikirkan keadaan mamahnya yang sakit.
Matahari semakin turun,
menunjukkan senja di sore hari. Segera setelah dia turun dari bus dan menuju ke
rumah dengan berjalan kaki. Ya jarak dari halte bus sampai rumahnya jalan kaki
hanya 5 menit. Reza terburu-buru karena ingin segera bertemu keluarganya
terlebih lagi mamahnya yang sedang sakit. Namun, dia melihat sesuatu di gapura
kampungnya. Dia melihat bendera kuning berkibar di depan rumah dan tenda biru
sudah terpasang. Banyak tetangganya yang berdatangan di rumahnya. Menangis
sejadi-jadinya gadis itu di depan keramaian warga. Dia menyesal tak dapat
menemui mamahnya di akhir waktu dan tak sempat bercerita banyak padanya tapi
bagaiamana lagi waktu tak dapat diulang,
hingga penyesalan akhirnya datang.

Komentar
Posting Komentar