Cerpen : Tanpa Kata

Karya : Aldhi Wahyu Pratama   
Klaten
Hujan di sore itu, menggerus hati yang tenang, membangkitkan kenangan dalam awang-awang, menunjukkan sesuatu yang hilang. Di hari dimana aku berkumpul dengan mereka yang juga memiliki tujuan yang sama, tapi entah. Segera setelah aku terpilih dan duduk disini, ya disini menikmati hujan setelah penat kurasa siang tadi. Aku tak mengerti mengapa ku nikmati hujan pada sore itu, mungkinkah hujan membawa kenangan? Ya, tentu aku ingat betul ketika Ia, sang kekasih hatiku berbagi ruang untukku untuk berlindung dengan payung kecilnya berwarna pink. Namun kurasa sesuatu yang berbeda. Tak disangka, dengan sekejap lamunanku terpecah oleh sapaan hangat dari seseorang.
“Hai, mengapa kamu disini? Bukankah seharusnya kita berkumpul dengan mereka? Mereka juga ingin mendengar cerita darimu, berbagi kisah denganmu” katanya yang mengajakku ke dalam aula.
“E..e.. aku sedang menikmati hujan. Katanya hujan bisa membuat bahagia pun juga membuat sedih. Aku tak tahu, Mel” balasku yang kemudian merenung kembali.
Dia adalah Amel, Amelia Kusuma, teman satu kampus juga seseorang yang mempunyai nilai tertinggi diantara teman-teman yang lain. Berbagi dengannya merupakan hal yang kusuka apalagi ketika sudah membahas tentang sinema yang kami suka. Aku pun tidak tahu apakah aku sendiri nyaman dengan kehadirannya saat hujan di sore itu.
Ku nikmati lamunanku lagi. Seketika terbayang dengan kekasih yang berada diluar kota, sedang apa dia disana, apakah juga memikirkan hal yang sama. Namun, aku merasakan hal berbeda, aku tak tahu. Sudah lama aku memiliki hubungan spesial dengan seseorang dan hubungan itu masih berjalan hingga sekarang. Entah apa yang kupikirkan saat itu, terlintas di pikiranku bahwa kekasihku memiliki seseorang yang lain, entahlah aku tidak peduli karena saat ini aku hanya mengingat hujan dan kenanganku.
“Bolehkah aku duduk disini?” kata Amel yang sekali lagi memecahkan lamunanku.
“Boleh tentu, mengapa tidak? Tetapi disini dingin tidak seperti didalam sana yang hangat dan bisa kamu dapatkan dari mereka” balasku sambil menunjuk orang-orang yang ada di dalam aula.
“Tidak masalah, selagi ada seseorang disini. Aku penasaran dengan orang itu yang seolah seperti serigala yang sendirian. Dibalik sosok yang kuat terdapat kesendirian yang mendalam” balasnya
“Serigala itu hanya ingin sendiri, serigala itu tak tahu apa yang harus dibuatnya, serigala itu mencari tempat untuk berteduh setelah berjalan jauh menyusuri hutan dan hanya sendiri…” kataku
            Seketika keheningan menyelimuti kami yang berkumpul menikmati gemericik air hujan dan angin yang tidak terlalu kencang. Aku bertanya sesuatu pada diriku sendiri, akankah kenanganku bersama kekasihku itu terkenang sampai nanti atau hanya menjadi sebuah cerita yang menyakitkan. Melihat langit yang terus menyucurkan airnya, aku merasakan seolah langit juga merasakannya. Hujan di sore itu semakin deras tanpa ada satu patah kata sekalipun yang terucap dari kami. Hanya diam yang ada, hanya kenangan.
            Dalam keheningan itu, aku memikirkan sesuatu yang lain, apa yang membawa Amel kesini menemuiku diluar yang dingin. Diluar aula sangat dingin, bahkan hal itu akan membuat seseorang yang terbangun kenangannya akan semakin merasakan pahitnya kenangan. Dingin itu menusuk, semua orang membenci itu namun disini, kami berdua bersama menikmati dingin itu. Seolah ia ingin menemani serigala yang sendirian, ya serigala itu mungkin memiliki sikap yang dingin namun jauh di dalam hatinya ia meraung dalam kesendiriannya. Aku tak tahu, apakah dia hanya ingin menikmati hujan di sore itu setelah letih dirasa siang tadi mengikuti kegiatan yang panjang atau ia juga memiliki kenangan bersama hujan. Setelah beberapa waktu berlalu…
“Mau kah kamu bernyanyi bersamaku disore ini?” katanya dengan memegang gitar klasik yang dibawa oleh kelompok kami.
“Boleh, kalau memang kamu ingin menikmati hujan bersamaku mala mini” balasku
Dengan berbekal gitar klasik, dia mulai memetiknya dan nada-nada dikeluarkan.
“Apa kamu tahu lagu ini?” katanya sambil bermain gitar
“Em… aku tidak begitu tapi sepertinya pernah dengar” balasku dengan menduga-duga
“Coba dengarkan lagi…” katanya yang kemudian mulai mengeraskan suara bermain gitarnya.
            Ternyata ia memainkan sebuah lagu dari band Jamrud yang berjudul Pelangi di Matamu. Aku ingat betul setelah hujan adalah pelangi. Namun lebih dari itu seperti seolah menyampaikan keheningan diantara kami berdua. Tanpa ada kata terucap.
30 menit.
Kita disini.
Tanpa suara…
Dan aku resah.
Harus menunggu lama.
Kata darimu…
Mungkin butuh kursus.
Merangkai kata.
Untuk bicara.
Dan aku benci.
Harus jujur padamu.
Tentang semua ini.

Jam dinding pun tertawa.
Karena ku hanya diam.
Dan membisu.
Ingin kumaki.
Diriku sendiri.
Yang tak berkutik di depanmu.

Ada yang lain.
Di senyummu.
Yang membuat lidahku.
Gugup tak bergerak.
Ada pelangi, di bola matamu.
Dan memaksa diri.
Untuk bilang… aku sayang padamu.

            Aku pun bernyanyi bersamanya menikmati dinginnya angin di sore hari setelah hujan deras turun. Aku tak tahu apa yang ia maksud melantunkan lagu itu yang memecahkan keheningan. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan padaku di sore itu, namun satu hal yang kupikirkan aku menikmati cerita hujan di sore itu.

Komentar

Postingan Populer